Aish & Iqbal’s days

Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komentar

Ibuku sibuk

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah’ “Wahai Rabbku, kasihanilah keduanya sebagaimana mereka telah memeliharaku sewaktu kecil”

(QS. Al-Israa’ [17]: 24)

Saya sempat bertanya-tanya dalam hati, ketika Ibu Lara Fridani memberikan kesempatan kepada saya untuk menulis mengenai Ibuku Sibuk dan Ibuku Bekerja.  Terpintas dalam benak saya apa yang harus saya tuliskan mengenai ibu saya yang nyata-nyata tidak sibuk bekerja di luar rumah seperti ibu-ibu lainnya yang bekerja di kantoran, sekolah, ataupun perusahaan. Tetapi setelah saya cermati lagi, maka saya menemukan jawabnnya. Yup… setiap hari ibuku sibuk dan setiap hari pula ibuku bekerja, di kantor yang sehari- harinya saya tempati dengan perusahaan bernama Rumah Tangga.

Ibu rumah tangga merupakan profesi yang ibunda saya geluti setelah berhenti bekerja sejak tahun 1986. Sebelumnya beliau bekerja menjadi staff keuangan pada salah satu penginapan di Jakarta. Setelah adik pertama saya lahir, ayah saya meminta ibu saya untuk fokus mengurusi rumah tangga sedangkan kegiatan mencari nafkah tetap diemban oleh ayah. Sejak saat itu, ruang kerja  ibu saya berpindah yang tadinya di kantor menjadi ruangan di seluruh bagian rumah.

Saya pernah membaca buku yang menyebutkan bahwa Ibu rumah tangga bisa dianggap sebuah profesi karena pekerjaan rumah tangga ini membutuhkan keahlian dan keterampilan khusus dalam menjalankan amanahnya.[1] Ibu rumah tangga harus bisa menjadi manajer, kepala keuangan, koki, pengasuh, polisi, bodyguard dan keahlian lainnya tidak bisa diremehkan oleh siapapun. Satu profesi dengan berbagai keahlian ini mendapat keistimewaan lagi dengan pahala yang berlimpah apabila dilakukan dengan penuh keikhlasan. Subhanallah…

Layaknya dengan pekerjaan kantor atau perusahaan, jika di kantor seseorang hanya melaksanakan tugas di salah satu bagian, maka profesi ibu rumah tangga tidak hanya bertumpu pada satu bagian, tapi banyak bagian. di kantor, Jika diibaratkan bagian- bagain kerja pada profesi ibu rumah tangga berperan di berbagai divisi misalnya divisi logistik, perlengkapan, konsumsi, keuangan dan masih banyak lagi. Di kantor atau perusahaan laporan hasil pekerjaan diserahkan kepada bos atau atasan. Di rumah tangga, sang istri mengkoordinasikan hasil pekerjaan dan masalah-masalah yang berhubngan dengan rumah tangga kepada suami agar tercipta suatu suasana yang selaras dan seimbang dalam rumah tangga tersebut.

Begitu bangganya saya memiliki seorang ibu yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Alhamdulillah… Mama, begitu saya menyebut ibunda saya tercinta selalu memfokuskan dirinya pada pekerjaan rumah tangga dan kebutuhan anak dan suaminya. Tak kenal lelah dan letih beliau melaksanakan tanggung jawabnya. Bahkan tidak berlebihan apabila ada satu ungkapan yang menyebutkan, “Siapa bilang menjadi Ibu rumah tangga itu pekerjaan yang mudah?. Apotik 24 jam aja kalah”.[2] Kenyataannya, sejak pagi hingga malam dan bertemu pagi kembali, aktivitas mama sebagai Ibu rumah tangga tiada hentinya. Yup… Ibuku memang super sibuk.

***************

Hari masih gelap, tapi derit pintu kayu terbuka sudah terdengar. Dialah Mama, ibundaku tersayang, yang masih menyempatkan diri untuk melakukan sujud di sepertiga malam terakhirnya. Mendo’akan kami (ketiga putri dan suaminya) agar senantiasa dalam penjagaan Yang Maha Kuasa. Selepas subuh, mama bergegas ke dapur dan merebus air yang akan digunakan untuk menyeduh teh dan kopi kesenangannya. Menurut Mama, kopi itu memberikan tenaga lebih untuk menjalani aktivitasnya setiap hari.

Kebiasaan Mama setiap pagi setelah selesai membuat kopi dan teh untuk sarapan yaitu memanjakan dirinya di kerumunan tanaman dna ikan kesayangannya. Beliau sirami tnamana yang dirawatnya setiap pagi dan sore itu dan memberi makan ikan-ikannya. Pernah sesekali saya menanyakan tentang kesukaannya bertaman dan memelihara ikan. Beliau menerangkan bahwa tanaman dan ikan bisa menjadi terapi pengusir di kala kejeuhan datang. Rutinitas yang terus-menerus bergulir pasti menimbulkan kejenuhan.  Cukup dengan memandang tanaman-tanaman yang tumbuh subur dan ikan-ikan yang setiap hari dirawatnya, maka jenuhnya akan hilang. Hmm… cara yang begitu sederhana dan menyenangkan bagi mama.

Setelah sekitar 10-15 menit mama menyibukkan diri untuk bertaman dan bermain bersama ikan-ikan, Mama mandi, kemudian mempersiapkan bersiap-siap untuk pergi ke pasar. Mama tidak setiap hari pergi ke pasar. Bisanya adakalanya beliau berbelanja kebutuhan masak untuk 2 hari sehingga esok harinya sudah ada persediaan untuk masak. Mama adalah penawar yang ulung. Beliau bisa menawar harga-harga barang yang ada di pasar dengan jurus jitunya yaitu yakin bahwa harganya bisa dikurangi tanpa membuat penjualnya marah. Ya.. walaupun terkadang saya merasa kasihan terhadap penjual yang harganya ditawar-tawar, tapi menurut Mama, harga itu sudah dipasang memang antisipasi apabila ada pembeli yang menawar.

Sepulang dari pasar, Mama mulai membereskan hasil belanjanya. Satu hal yang tidak pernah ditinggalkan apabila membeli daging, ikan atau ayam yaitu langsung mencuci bersih, menyiangi dan memberi bumbu. Alasannya agar tidak amis dan tidak banyak lalat yang mendatangi. Pernah sesekali saya meminta beliau untuk istirahat dulu sepulang dari pasar yang lumayan agak jauh dari rumah kami (sekitar 10-15 menit berjalan kaki dari rumah), tetapi beliau mengatakan jika ditunda-tunda nantinya malas akan terasa. “Yang penting sudah bersi dulu, kalau mau digorengnya nanti ya ngga  masalah”. Lagi-lagi kekaguman saya kepada mama tak bisa terungkapkan.

Kesibukan Mama tidak berhenti sampai disini. Janjinya untuk beristirahat (setelah selesai menyiangi belanjaan untuk masak) tidak ditepati. Jika terlihat ada pakaian kotor (walaupun hanya beberapa potong pakaian) maka beliau akan menampung air di bak dan mulai mencuci pakaian-pakaian tersebut. Terkadang sewaktu libur, saya membantu beliau mencuci pakaian. Tetapi dihari-hari biasa di waktu saya harus bekerja, beliaulah yang begitu berjasa menjadikan pakaian-pakaian kami rapih dan bersih. Mama punya keterampilan dan cara tersendiri dalam menjemur. Beliau mengatur jemuran berdasarkan bahannya. Pakaian yang berbahan tebal diletakkan di barisan paling depan yang terkena sinar matahari, sedangkan yang berbahan batik atau tipis beliaua letakkan di tempat yang terkena angin lebih banyak. Seusai mencuci dan menjemur barulah biasanya Mama beristirahat sejenak meluruskan tubuhnya di ruang TV yang menjadi ruang keluarga.

Mama termasuk orang yang tidak betah untuk lama-lama duduk diam. Memang begitulah yang terjadi. Istirahat setelah selesai mencuci dan menjemur pakaian tidaklah lama. Paling lama hanya 15 menit, setelah itu mama sudah tidak sabar untuk melanjutkan aktivitas lainnya yaitu memasak.

Mama biasanya membuat lebih dari satu jenis lauk untuk makan. Beliau membuat syaur dan ikan (ayam dll) dan lauk lengkapan lainnya semisal tempe dan tahu. Tak lupa pula sambel yang jadi kegemaran keluarga. Hal inilah yang membuat Mama tidak sebentar berada di dapur. Dapur kami kecil dan letaknya di bagian belakang rumah. Kesibukan Mama di dapur terkadang membuat kami berfikir Mama sedang keluar rumah karena mama terus berada di dapur sampai semua masakan siap. Jika ditawari bantuan beliau biasanya meminta kami (anak-anaknya) untuk membantu melipat pakaian atau setrika pakaian saja, sedangkan masakan dipegang sepenuhnya oleh beliau. Mamaku sang juru masak yang handal. Bumbu masakannya selalu pas di lidah kami.

Suatu hari pernah saya menemani Mama memasak di dapur sekaligus ingin belajar memasak. Menurut saya, memperhatikan cara masak Mama yang sistematis seperti meyaksikan suatu atraksi yang menarik. Sebelum mengolah masakan di atas wajan, Mama membersihkan dulu bahan dan bumbu masak yang akan diolah, kemudian diletakkan di tempat yang terpisah satu sama lain. Setelah semua bersih maka mulailah dinyalakan kompor dan pinggan mulai dipanaskan. Mama mulai menggoreng atau menumis sayuran. Setelah satu masakan selesai, beliau langsung melanjutkan mengolah masakan yang lain begitu seterusnya hingga selesai. Subhanallah. Suatu pekerjaan yang membutuhkan keterampilan khusus. Betapa tidak, saya pernah mencoba dan hasilnya tidak sama dengan yang di hasilkan oleh Mama. Pekerjaan selesai tidak secepat waktu Mama. Waktu pengolahan, rasa dan tampilan masakan menjadi taruhannya.

Di sela-sela kesibuakkannya, beliau selalu mengingatkan keluarganya untuk melaksnakan apa yang diperintahkan Allah. Sama halnya seperti Ayah saya, beliau megatakan

“Jangan sampai kesibukan kita di dunia ini membuat kita  menjadi lalai. Coba bayangkan kalau kita sudah sakit trus ngga bisa apa-apa lagi siapa yang mau tanggung jawab atas ibadah kita?”

Ya, nasihat yang demikian yang menjadi motivasi saya untuk selalu memberikan waktu di kala panggilanNya sudah berkumandang, karena manusia tidak akan mengetahui apa yang terjadi semenit bahkan bebrapa detik ke depan.

Beranjak sore aktivitas Mama masih berlanjut. Mama mengisi waktu sorenya dengan menyapu, mengepel lantai dan kegiatan kesenangannya yaitu menyiram tanaman. Terkadang waktu-waktu ini juda beliau menfaatkan untuk membereskan pakaian yang sudah kering dan melipatnya. Setelah itu, seringkali saya menemui beliau yang sedang membaca mushaf Al Qur’an. Demikian beliau lakukan sambil menanti kepulangan anggota keluarga lainnya.

Malam hari pun tiba, satu persatu anggota keluarga telah pulang dan kembali ke rumah. Mama menyambut kami dengan menyajikan masakan hasil olahan siang tadi. Setekah makan dan bercengkerama dengan keluarga, biasanya Mama akan pamit untuk tidur. Kami memahami beliau pasti sangat kelelahan karena telah seharian mengatur dan membereskan begitu banyak hal di rumah kami yang ukurannya tidak besar.

****************

Sekelumit kegiatan yang ibu saya lakukan setiap harinya tidak menyurutkan semangat beliau untuk tetap membuktikan bakti beliau sebagai seorang Ibu dan seorang istri. Kesibukan yang beliau lakukan saya pikir sama dengan bahkan lebih dari kesibukan wanita karir di luar. Terbukti ungkapan yang di awal saya sebutkan yaitu waktu 24 jam pun tidak cukup untuk melakukan semua pekerjaan dalam rumah tangga yang tidak ada habisnya. Jika wanita karir di luar dapat mengambil cuti, tetapi seorang ibu rumah tangga tidak bisa berbuat demikian. Jika karyawan kantoran mendapatkan gaji berupa uang hasil jerih payahnya selama bekerja, maka posisi ibu rumah tangga mendapat gaji pahala yang begitu besar dari Allah ta’ala dan bonus berupa syurga jikalau dilakukan dengan penuh keikhlasan.

Subhanallah.

Disini saya tuliskan sedikit puisi yang saya karang sendiri. Mungkin tidak bisa dikatakan indah. Tapi saya berharap ini dapat menjadi secercah masukan dan menjasikan sedikit renungan bagi orang-orang yang menggangap profesi Ibu Rumah Tangga adalah profesi yang tidak bisa dibanggakan

(–seperti saya yang dahulu menganggap profesi ini tidak istimewa, sampai pada saat saya sadar bahwa tidak semestinya demikian–. ). Wallahu ta’ala a’lam.

Ibu Rumah Tangga

Dia  mungkin tak bertitel tinggi

Tidak juga dari status sosial yang terpandang

Terkadang ketika ada yang bertanya “ Apa pekerjaan Anda?”

Ia berkata

“ Saya hanya Ibu Rumah Tangga biasa”

Bukan karena merendah tapi karena malu dengan status yang disandangnya.

Subhanallaah…

Seharusnya Ia merasa bangga

Karena di bahunya tersandang tanggung jawab yang begitu besar…

Sebagai manajer…

Sebagai polisi…

Sebagai staff keuangan…

Suatu posisi yang belum tentu bisa diemban dengan baik oleh orang lain.

Oleh itulah…

Wahai wanita yang sebagian besar hidupnya berada dirumah….

Yang mengatur seluruh kebutuhan rumah dan keluarga.

Yang mengabdikan hidupnya semata-mata untuk beribadah

Esok atau lusa…

Jika ada lagi yang bertanya “ Apa pekerjaan Anda?”

Jawablah tanpa ragu dengan tersenyum dan katakan :

Alhamdulillaah… Saya adalah Ibu Rumah Tangga

Bekasi,

Rumah terhangat dan penuh Cinta.

13/03/2010


[1] Lizsa Agggraeni, Menyemai Cinta di Negeri Sakura, Diary Kehidupan Dua Muslimah yang tinggal di Jepang. Sukoharjo: Samudera.2007.  p.21

[2] Lagu by Sofie Navita (judul lagunya lupa bu.. nti ais cari lagi)

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komentar

dan ketika…

Di sela- sela jam kantor seorang sahabat bertanya padaku mengenai kesiapanku untuk memulai langkah dalam menyempurnakan setengah dien.

“Aish dah siap yah?”

Aku pun hanya tersenyum tanpa menjawab.

dan pertanyaan itu tidak langsung pergi dari pikiranku.

*****************************************************************

Sore hari, ketika terdiam di bangku kosong metromini yang membawaku pulang.

Sejenak aku teringat pertanyaan sahabatku tadi siang

Aku pun terdiam dan berpikir sejenak.

[apa indikator seseorang dikatakan siap untuk menyempurnakan setengah dien dan melaju berjuang bersama orang yang dipertemukan Allaah dengannya ini...]

hmm…

huff…

tak ku temukan jawabnya…

tapi hati kecilku berkata:

“Ketika orang lain bertanya “kapan aku siap?” mungkin hanya ku jawab dengan senyuman.

Tapi ketika saat itu tiba, insya Allaah aku akan tahu. This is my turn.

Posted in kata hati | Tinggalkan komentar

Uhibbuka Fillaah..

Pagi ini kubuka situs jejaring sosial yang telah memperkenalkan aku pada banyak teman, baik yang pernah ku temui ataupun yang hanya kukenal namanya.

Beberapa nama yang ku kenal menyukai catatan yang aku copas dari inbox-ku, dan dari beberapa nama yang aku tag memberikan komentar.

Tibalah pandanganku di baris kedua dari kotak dialog komentar.

Satu nama yang begitu aku kenal…

Satu nama yang akrab di telingaku…

Seseorang yang menjadi pahlawan dalam hidupku.

Seseorang yang begitu aku sayangi dan begitu menyayangku.

Dia ayahku

memberikan komentar berupa do’a “Semoga Allah ta’ala merahmatimu nak“.

Aku terpaku dan tak menyangka… komentar itu berasal dari ayahku.

doa itu..

senyuman itu..

semangat hidup itu..

terima kasih ayahku…

aku begitu menyayangimu.. Uhibbuka fillah aby..

semoga Allah ta’ala selalu melindungimu. Amiin.

Robbighfirlii waliwaalidayyaa warhamhuma kamaa robbayaani soghiroo.

Beautiful February 05, 2010

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komentar

coba-coba nih..

09 februari 2010, menjelang makan siang di kantor jurusan.

Pertama kali belajar bikin blog

pertama kali punya blog

pertama kali posting…

dalam rangka coba- coba

maklum masih belajar…

mudah-mudahan ke depannya bisa lebih terampil..

santai yuuk

Posted in biasa aja | 1 Komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Komentar